Relevansi Pendidikanku

Akhir-akhir
ini pendidikan di Indonesia menjadi sorotan besar untuk kalangan
petinggi-petinggi negara. Bukan hanya akhir-akhir ini sebenarnya, dari dulu
hingga sekarang pendidikan di Indonesia selalu menjadi sorotan mata-mata
pemerintah Indonesia bahkan hingga ke masyarakatnya. Mulai dari kinerjanya
hingga output yang dihasilkan dari pendidikan yang diterapkan di
Indonesia. Tak ayal, system pendidikan di Indonesia selalu melulu mengalami
perombakan demi perombakan dari pergantian kurikulum disetiap pergantian kabinet
berlangsung. Hal tersebut positifnya adalah karena pemerintah begitu ingin
pendidikan yang terjadi di Indonesia bisa lebih baik dan berhasil. Namun hingga
akhir inipun masih nihil.
Permasalahan relevansi yang terjadi
di Indonesia menjadi sorotan mata publik. Relevansi dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia yaitu hubungan, kaitan setiap mata pelajaran harus ada hubungannya
dengan keseluruhan tujuan pendidikan. Tepat sekali. Permasalahan relevansi kini
perlu digaris bawahi. Pasalnya pendidikan sekarang dirasakan adanya
ketidakcocokan antara isi pendidikan dengan realitas kebutuhan masyarakat
terutama para pemakai output dari pendidikan. Misalnya, rendahnya rate
of return dari lulusan sekolah. Masih banyak lulusan sekolah yang
dihasilkan dari pendidikan dengan kualitas rendah dalam hal adaptasi dengan
dunia kerja atau bahasa jelasnya tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh dunia
kerja. Alsahil, banyak lulusan sekolah hasil pendidikan yang tidak diserap oleh
dunia kerja. Sebagai tanda awal angka pengangguran yang terjadi di Indonesia
kian meningkat.
Dahulu, pada tahun 1990-an Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan pernah melakukan upaya untuk mengatasi permasalahan
relevansi pendidikan di Indonesia, beliau menggunakan metode yang berkiblat
dengan Negara asing, Jerman. Yang dikenal dengan program link and match hanya
saja karena program ini teralalu mengadopsi atau menjiplak maka program ini
gagal dengan hasil tidak memuaskan.
Masalah relevansi pendidikan
merupakan masalah yang krusial. Bayangkan saja ketika banyak sekali
ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dengan peluang kerja yang tersedia,
semisal saja perguruan tinggi A setiap tahunnya meluluskan sarjana sejumlah
1000 orang pertahun namun kesempatan kerja yang tersedia hanya 50 orang,
otomatis 950 orang tidak tertampung bukan? pertanyaannya apakah 950 orang itu
adalah lulusan tidak berkualitas? Dan akan lebih parah lagi jika yang lolos 50
orang tersebut ternyata dilakukan secara tidak benar, adanya suap menyuap,
nepotisme, koncoisme (karena kamu koncoku hehe) dan sebagainya.
Sebenarnya tujuan pendidikan negara
kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, agar terciptanya lulusan sekolah
yang berkualitas dan cerdas sehingga mampu bersaing di kancah international
dengan negara-negara asing, mampu memberikan perubahan pada bangsa sendiri dan
masyarakat luas. Namun, bagi kaum pragmatis, tentu membutuhkan lulusan
berkualitas yang cepat dan siap pakai. Bagi penulis, membahas tema pendidikan
tidak akan pernah habis. Sebagaimana negara kita yang terus memikirkan
perkembangan pendidikan yang harus maju dan berhasil. Problematika relevansi
pendidikan menjadi pe er untuk kita semua.
Untuk negara kita, untuk pemimpin kita, untuk pemerintah kita, untuk
pemakai output pendidikan kita, untuk masyarakat kita dan untuk diri
kita.
Tulisan ini hanyalah sebagai ulasan
dan renungan atau penyadaran bahwa kita hendaknya menjadikan output pendidikan
kita kian berkualitas. Sekian. Selamat bekerja tuntas dengan ikhlas serta
berkualitas.

Komentar
Posting Komentar