Akar atau Solusi ?

Abad
global merupakan sebuah perwujudan dari adanya perkembangan dan kemajuan
teknologi berupa globalisasi. Hidup dalam dunia yang terbuka, dunia tanpa mengenal
batas , dunia dimana orang-orang mudah untuk berkomunikasi, menjangkau manusia
yang jauh menjadi kian dekat hingga menyebabkan batas bangsa semakin kian tidak
jelas. Ungkapan dunia tak selebar daun kelor pun terbantahkan sekarang.
Dirasakan atau tidak, dunia sekarang terasa kecil. Dalam buku kebijakan pendidikan
menganalisis bahwa beberapa ahli futuristic melihat fenomena globalisai sebagai
sesuatu yang telah melahirkan triple three revolution, yaitu revolusi
telekomunikasi, revolusi informasi, dan revolusi travel semua kemajuan tersebut
telah mendorong dunia menjadi satu dengan batas ruang dan waktu yang sangat
nisbi. Namun, kehidupan global tak melulu dimaknai sebagai tantangan tapi
dimaknai sebagai peluang.
Dalam
menguasai kehidupan global dibutuhkan manusia-manusia dengan kualitas yang
handal. Excellent. Manusia kualitas handal yang mempu bersaing dengan
arus positif. Menyerukan ide –ide kreatif, menghasilkan produk-produk new and
good, dan berprestasi dalam berkompetisi. Namun sayangnya, hal yang
perlu menjadi perhatian kita bersama, untuk menghasilkan manusia dengan
kualitas handal masih tersendat pada kualitas yang terjadi pada system di
Negara kita. Untuk menghasilkan manusia dengan kualitas yang handal tentulah
membentuk pendidikan atau pembekalan yang handal juga. Sayangnya, proses
pendidikan dan pengajaran kita hanya melahirkan output dan outcame “bermental
tukang dan mental pegawai.” Yah, yang miskin imajinasi dan lemah karakter.
Memang
pada dasarnya pendidikan bak eksperimen yang tidak akan ada habisnya.
Senantiasa berekperimen sampai kapanpun juga. Hal itu dikarenakan pendidikan
merupakan peradaban dan kebudayaan yang harus ada dan terus berkembang. Di
tengah tudingan dan kritikan terhadap dunia pendidikan saat ini bahwa
pendidikan telah gagal untuk menghasilkan kualitas output sebagaimana yang
diinginkan, misalnya semakin banyaknya tidak korupsi , kolusi dan nepotisme di
Indonesia, angka pengangguran kian meningkat, kejahatan kian meresahkan para
umat dan masih banyak lagi sebagai produk-produk yang tidak berhasil namun
disisi lain pendidikan telah berhasil dalam mencapai perannya sendiri
dikarenakan masih banyaknya para kritisi, analis, pengamat, pakar yang sering
melontarkan pendapatnya.
Selama
ini ada beberapa pertanyaan yang mengelitik, yaitu mengapa permaslahan seperti
korupsi, pendidikan minim kulitas, kemiskinan, narkoba terorisme dan beberpa
permasalahan lainnya yang tak juga menuai akar solusinya? Mengapa para pejabat
yang mengaku kekuasaannya sebagai abdi negara seakan tak kunjung menggunakan
hati nuraninya untuk menghentikan aksi bejatnya berkorupsi, kolusi dan
nepotisme? Menngapa kapitalisme menjadi sebuah kekuasan besar tanpa antithesis?
Hingga, pada setiap media masa penuh pemberitaahn penangkapan pejabat korup,
ketidakadilan yang merajalela, kekerasan dan pertikaian skandal penipuan,
pelanggaran norma dan etika dan lain sebagainya.
Carut
marut kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia ini membuat sejumlah
pengkritis, analis, aktivis, kaum intelektual dan agamawan serta semua yang
peduli berusaha mencari sumber permasalahan. Salah satu hasil pemikiran itu
bahwa dunia pendidikan yang menjadi salah satu penyebab kondisi ketidakstabilan
bangsa ini. di duga pendidikan gagal melahirkan generasi penerus yang
berkarakter, cerdas, santun, jujur, afekti, psikomotorik, bertaqwa, memiliki
toleransi tinggi, mandiri dan termaktub dalam satu kepribadian diri. Apakah
hanya dunia pendidikan saja yang menjadi akar permasalahan yang terjadi? Tentu
saja tidak. Tentu dunia pendidikan bukanlah satu institusi yang disalahkan
tidak. Hanya saja diharapkan adanya gerak perubahan atau berbenah diri dari
pendidikan yang ada hingga menjadi pendidikan yang unggul dengan system yang
sebaik-baiknya yang melahirkan manusia-manusia unggul, bukan hanya cerdas di
otak tapi cerdas di akhlak.
Selain
itu, jika kita amati dengan baik, mungkin saja kondisi yang carut marut di
kehidupan Negara kita terjadi adalah buah dari sebuah struktur yang korup. Aku,
kita atau orang-orang yang menginginkan adanya perubahan, tidak sedang
berhadapan melawan presiden yang tidak berkompeten menjalankan tugas, seorang
menteri yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan partainya, seorang
hakim yang alpa dalam memutuskan perkara yang adil apabila disodori uang yang
mengoda diri, atau polisi yang suka memeras, tetapi yang sebenarnya kita hadapi
adalah sebuah kekuasaan struktur yang telah membudaya. Struktur itu bagaikan
jarring laba-laba yang saling berhubungan satu sama lain.
Bisa
saja, sekarang ini pejabat-pejabat yang terseret ke dalam penjara atas tindakan
KKN dulunya mahasiswa-mahasisw kritis yang sangat getol menyerukan adanya
perubahan, yang sangat geram pada pejabat yang melakukan menyimpangan, hanya
saja kondisi empiris yang terjadi adalah mereka yang dahulunya idealispun
akhirnya melakukan tindakan-tindakan yang dahulu sangat mereka benci dan
kritisi.

Komentar
Posting Komentar