ARRAYAN


2
Plane of life

          Ya Allah,
            Berkahilah  Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam
            Sebanyak apa yang dikuasai ilmu-Mu,
            Dan apa yang ditulis pena-Mu,    
            Dan dihitung oleh buku catatan-Mu.

Kota Yogyakarta.
Selepas shalat subuh, ku tunaikan meroja’ah (Mengulang) hafalanku. Selepasnya aku mulai membuka mushaf Al Qur’an, menambah sedikit demi sedikit hafalanku. Ayat demi ayat dari Al Qur’an surah Al Waqiah menghiasi suasana kamarku pagi ini.
“... Dan kamu menjadi tiga golongan,”
“yaitu Golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu,”
“dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu,”
“dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga),”
“mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah),”
“Berada dalam surga kenikmatan,”
(Q.S Al Waqiah : 7-12)
            Mataku mulai banjir dengan air mata. Aku langsung menutup mata, air matapun lantas mengalir membanjiri pipiku. Wajahku tertutup oleh mushaf Al Qur’an, aku menangis bersama kitabku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri aktivitasku bersama Al Qur’an. Aku mulai beranjak dari dudukku, meletakkan kitabku di atas meja sambil menggunakan mukenah putih, kutatap buku-buku tebal sudah mulai berteriak-teriak memanggilku.
            “Aisyah. Aisyah. Aisyah. Ayo belajar.”
            Aku hanya melihatnya sekilas. Aku memilih melangkah meninggalkan buku-buku itu dan merapikan alat-alat shalatku. Selepas itu aku mulai merapikan kamarku. Setelah semuanya menjadi rapi dan bersih aku mulai tersenyum lebar. Kutarik kursi yang ada disebelahku. Akupun mulai mendudukinya dengan nafas yang rileks. Ku tengadahkan tanganku, kupejamkan mataku, hatiku mulai berbisik kepada Rabbku.
            “Bismillaahirrahmaannirrahiim”
            “Allaahumman fa’ni bimaa ‘allamtani wa’allimni
            Maa yanfa’unii wazidnii ilman walhamdulillaahi ‘ala
            Kulli haalin wa ‘audzu billahi min ‘adzaabinnaar.”
            (HR. Ibnu Majah – Tirmidzi).
Aisyah Khumairah.
            Perempuan ini adalah Aisyah Khumairah. Seorang gadis lugu yang berperawakan tinggi dan kurus. Ia memiliki pipi yang kemerah-merahan persis seperti namanya. Ia terkenal dengan kecerdasan yang dimilikinya sehingga ia menempuh jurusan kedokteran umum di salah satu universitas di Yogyakarta. Kecerdasan yang sungguh luarbiasa sehingga membuat kagum orang-orang disekitarnya. Hal tersebut dibuktikan dengan ia sering kali memenangkan penelitian Ilmiah Nasional.
            Kubuka buku tebal yang bersampul warna hijau. Buku yang menjelaskan kehidupan para tumbuhan. Ia membuka bab tropical vegetation. Gadis ini langsung terbayang tumbuhan kaktus yang ada di depan rumahnya.
            Abstrack.
            Deretan kata-kata ilmiah sudah mulai melambai-lambai seakan-akan memanggil namanya. Kaca mata berminus yang ia kenakan begitu membantunya dalam melihat tiap-tiap huruf yang tersusun. Kata-kata ilmiah ini harus di hafalkan oleh seorang calon dokter muslimah.
            Sesekali, ia menyerut air putih hangat yang ada di sebelahnya. Begitu khusyuk tanpa masalah. Matanya tiba-tiba berkedip, kekhusyukannya dalam belajar tiba-tiba teralihkan dengan sebuah handphone yang berdering.
            “Assalamu’alaikum, khaifahaluk dinda?”
            “Wa’alaikummussalam. Bikhair walhamdulillah mbak.”
            “Sedang apa sekarang?”
            “Belajar mbak. Kenapa?”
            “Mashaallah.”
            “Mbak, bagaimana kabar Arrayan? Kapan dia mulai bisa kuliah?”
            “Mbak juga belum tahu dinda.”
            Kami terdiam.
            “Mbak juga sedih kalau dia tidak kuliah. Dia adalah bidadari mbak yang cerdas seperti kalian. Kalian perempuan yang mengingatkan mbak akan istri para rasul. Arrayan ya seperti Hafshah istri rasul yang merupakan anak dari Ummar bin Khattab. Sedangkan Aisyah khumairah sendiri seperti istri rasul yaitu Aisyah ra. Dan untuk Shafiyyah persis seperti Shafiyyah istri rasul.
            “Walilla ilham mbak, semuanya adalah skenario-Nya. aku, Arrayan, dan Shafiyah diciptakan sebagai perempuan biasa yang memang sedang berharap setara dengan para shahabiyah. O iya mbak, sampaikan salamku dengan Arrayan, katakan padanya aku begitu merindukannya dan kalau ada kesempatan, minta dia untuk kuliah di universitasku saja biar bisa barengan.” Jawabku sambil terkekeh.
            “Aisyah... mbak mau bilang kalau mbak mau menikah.”
            “Subhanallah..!!!” Aisyah terkejut. “Siapa-siapa? Siapa ikhwan yang telah berani meminang kakakku ini?” Tanya Aisyah penasaran.
            “Dia adalah ikhwan daerah padang yang dahulu adalah teman mbak satu organisasi.”
            Aisyah mengeryit, tampak kerutan di antara kedua alisnya. “Mbak ke padangnya kapan?”
            “Maksud mbak, saat organisasi mereka berkunjung ke kampus mbak. Katanya, saat itu dia melihat mbak tapi mbak nggak tahu sama sekali saat ta’aruf baru mbak sadar pernah melihatnya diacara tersebut. Dua tahun setelah lulus kuliah ini baru dia meminang mbak, dan dua minggu lagi mbak akan walimahan. Bukan saat acara organisasi ya kita kenalnya. Mbak nggak kenal sama sekali malah.”
            “Iya percaya dehh... dua tahun setelah lulus kuliah terus di pinang. Coumlode niiii...”
            “Mbak tunggu Aisyah juga harus Coumlode seperti mbak. Tapi sekarang mau minta bantuan kalian. Selama dua minggu ini mbak harus mengkhatamkan Alqur’an sebagai target mbak untuk menikah. Jadi saat menikah nanti mbak sudah mengkhatamkan al qur’an berharap ada keberkahan di sana. Aisyah mau bantu berapa juz?”
            “2 juz saja ya mbak.”
            “Juz berapa?”
            “Juz 6 dan 7.”
            “Baiklah, semoga dimudahkan ya dinda. Tapi mbak ingin Aisyah membaca beserta artinya. Beritahu mbak jika sudah selesai.” Ujar mbak Salwa.
            “Inshaallah mbak. Aaaaa..... ada yang mau menikah niiihhh.”
            Siapakah muslimah?
            Bagaikan sebuah berlian yang berkilauan, terjaga dan tak dapat di tatap setiap mata.
            Bagaikan sebuah bunga yang wangi aromanya, berkelopak begitu indah dan terjaga dari si kumbang.
            Bagaikan sebuah cahaya yang berhasil menghilangkan kegelapan di dalam dada.
            Muslimah, selayaknya ia terus menjaga akhirnya juga akan terpinang juga.
            Bagaikan permata, bagaikan sebuah bunga, dan bagaikan cahaya.
            Permata yang terjaga lama-lama akan dimiliki,
            Layaknya bunga yang pada akhirnya membuat sang kubang datang,
            Dan bagaikan cahaya yang menghampiri hati, membersihkan setiap penyakit karena ada cahaya hati sebagai penyempurna agama di sanubari seorang muslimah.
            “Mbak harap Aisyah datang ke pernikahan mbak dua minggu lagi.” Suara di sebrang telpon mengangetkan Aisyah.
            “Berarti Aisyah harus pulang kampung?” tanya Aisyah kaget.
            “Iya. Mbak sengaja memilih tanggal pernikahan setelah kalian selesai ujian.”
            “Mbak.... kalau seandainya Aisyah semester ini tidak diizinkan pulang bagaimana?”
            “Mbak yakin, dinda mbak satu ini selalu menyediakan tabungan. Gunakan tabungan selama menyisihkan uang dari ayah dan ibu. Apa susahnya? Atau, bilang sama ayah ibu, uang jatah Aisyah dipotong saja buat Aisyah pulang. Beress.”
            Gadis ini menelan ludah. Sang murrobinya dahulu ketika SMA benar-benar mendesaknya. Di lubuk hatinya yang paling dalampun ia juga ingin pulang, bahkan ingin sekali tetapiii.....
            “Inshaallah mbak.”
            “Inshaallah bagi mbak adalah penerimaan bahwa seseorang yang mbak undang akan datang. Ia akan menjawab kata inshaallah yang berarti menyetuji untuk datang dengan kata-kata yang paling halus.”
            “Mbaaaakkkk..”
            “Fokuslah pada ujianmu dinda. Mbak tunggu. Assalamu’alaikum.”
            Tuuuttt... tuutttt.. tuutttt...
            Aku termangu di atas meja belajarku. Inikah yang dinamakan Plane of life. Sebuah wahana kehidupan yang melanda setiap insan. Perjalanan kehidupan yang menuntut kita untuk terus selali dewasa dan bersiap-siap diri. Aku mengambil contoh mbak Salwa misalnya, aku ingat betul ketika itu ia masih semester akhir dikuliahnya, tapi ia begitu giat sekali untuk mencargher iman kami. Setelah itu, ia lulus dengan predikat Comloude dan sekarnag menikah. Dipinang dengan seorang pangeran yang biasa disebut ikhwan soleh.
            Jannatii...
            Jannatiii..
            Jannatii..
            Selalu ia mengucapkan kata-kata itu seraya ia berharap akan dipertemukan dan dikumpulkan di sana. Jadilah muslimah yang selalu memahami peradaban kehidupan. Jika kau tak kalah oleh waktu maka kau menang sebagai muslimah peradaban, tetapi, ketika kau lengah akan waktu, maka jangan kau sesali, kehidupan telah menelanmu hingga kau sukar untuk keluar. Pelajari kehidupan ini dengan baik maka pendewasaan itu akan kau dapatkan.

Bidadari-bidadari kehidupan

Komentar

Postingan Populer