ARRAYAN
Plane of life
Ya Allah,
Berkahilah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam
Sebanyak apa yang dikuasai ilmu-Mu,
Dan
apa yang ditulis pena-Mu,
Dan dihitung oleh buku catatan-Mu.
Kota
Yogyakarta.
Selepas
shalat subuh, ku tunaikan meroja’ah (Mengulang) hafalanku. Selepasnya aku mulai
membuka mushaf Al Qur’an, menambah sedikit demi sedikit hafalanku. Ayat demi
ayat dari Al Qur’an surah Al Waqiah menghiasi suasana kamarku pagi ini.
“... Dan kamu menjadi
tiga golongan,”
“yaitu Golongan kanan,
alangkah mulianya golongan kanan itu,”
“dan golongan kiri,
alangkah sengsaranya golongan kiri itu,”
“dan orang-orang yang
paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga),”
“mereka itulah orang yang
dekat (kepada Allah),”
“Berada dalam surga
kenikmatan,”
(Q.S
Al Waqiah : 7-12)
Mataku mulai banjir dengan air mata.
Aku langsung menutup mata, air matapun lantas mengalir membanjiri pipiku.
Wajahku tertutup oleh mushaf Al Qur’an, aku menangis bersama kitabku. Akhirnya aku memutuskan
untuk mengakhiri aktivitasku bersama Al Qur’an. Aku mulai beranjak dari
dudukku, meletakkan kitabku di atas meja sambil menggunakan mukenah putih, kutatap buku-buku tebal
sudah mulai berteriak-teriak memanggilku.
“Aisyah. Aisyah. Aisyah. Ayo
belajar.”
Aku hanya melihatnya sekilas. Aku
memilih melangkah meninggalkan buku-buku itu dan merapikan alat-alat shalatku.
Selepas itu aku mulai merapikan kamarku. Setelah semuanya menjadi rapi dan
bersih aku mulai tersenyum lebar. Kutarik kursi yang ada disebelahku. Akupun
mulai mendudukinya dengan nafas yang rileks. Ku tengadahkan tanganku,
kupejamkan mataku, hatiku mulai berbisik kepada Rabbku.
“Bismillaahirrahmaannirrahiim”
“Allaahumman
fa’ni bimaa ‘allamtani wa’allimni
Maa
yanfa’unii wazidnii ilman walhamdulillaahi ‘ala
Kulli
haalin wa ‘audzu billahi min ‘adzaabinnaar.”
(HR.
Ibnu Majah – Tirmidzi).
Aisyah
Khumairah.
Perempuan ini adalah Aisyah
Khumairah. Seorang gadis lugu yang berperawakan tinggi dan kurus. Ia memiliki
pipi yang kemerah-merahan persis seperti namanya. Ia terkenal dengan kecerdasan
yang dimilikinya sehingga ia menempuh jurusan kedokteran umum di salah satu
universitas di Yogyakarta. Kecerdasan yang sungguh luarbiasa sehingga membuat
kagum orang-orang disekitarnya. Hal tersebut dibuktikan dengan ia sering kali
memenangkan penelitian Ilmiah Nasional.
Kubuka buku tebal yang bersampul
warna hijau. Buku yang menjelaskan kehidupan para tumbuhan. Ia membuka bab tropical
vegetation. Gadis ini langsung terbayang tumbuhan kaktus yang ada di depan
rumahnya.
Abstrack.
Deretan
kata-kata ilmiah sudah mulai melambai-lambai seakan-akan memanggil namanya.
Kaca mata berminus yang ia kenakan begitu membantunya dalam melihat tiap-tiap
huruf yang tersusun. Kata-kata ilmiah ini harus di hafalkan oleh seorang calon
dokter muslimah.
Sesekali, ia menyerut air putih
hangat yang ada di sebelahnya. Begitu khusyuk tanpa masalah. Matanya tiba-tiba
berkedip, kekhusyukannya dalam belajar tiba-tiba teralihkan dengan sebuah
handphone yang berdering.
“Assalamu’alaikum, khaifahaluk
dinda?”
“Wa’alaikummussalam. Bikhair
walhamdulillah mbak.”
“Sedang apa sekarang?”
“Belajar mbak. Kenapa?”
“Mashaallah.”
“Mbak, bagaimana kabar Arrayan? Kapan dia mulai bisa
kuliah?”
“Mbak juga belum tahu dinda.”
Kami terdiam.
“Mbak juga sedih kalau dia tidak
kuliah. Dia adalah bidadari mbak yang cerdas seperti kalian. Kalian perempuan
yang mengingatkan mbak akan istri para rasul. Arrayan ya seperti Hafshah istri rasul yang
merupakan anak dari Ummar bin Khattab. Sedangkan Aisyah khumairah sendiri
seperti istri rasul yaitu Aisyah ra. Dan untuk Shafiyyah persis seperti
Shafiyyah istri rasul.
“Walilla ilham mbak, semuanya adalah
skenario-Nya. aku, Arrayan,
dan Shafiyah diciptakan sebagai perempuan biasa yang memang sedang berharap
setara dengan para shahabiyah. O iya mbak, sampaikan salamku dengan Arrayan, katakan padanya aku
begitu merindukannya dan kalau ada kesempatan, minta dia untuk kuliah di universitasku saja
biar bisa barengan.” Jawabku sambil terkekeh.
“Aisyah... mbak mau bilang kalau
mbak mau menikah.”
“Subhanallah..!!!” Aisyah terkejut.
“Siapa-siapa? Siapa ikhwan yang telah berani meminang kakakku ini?” Tanya
Aisyah penasaran.
“Dia adalah ikhwan daerah padang
yang dahulu adalah teman mbak satu organisasi.”
Aisyah mengeryit, tampak kerutan di
antara kedua alisnya. “Mbak ke padangnya kapan?”
“Maksud mbak, saat organisasi mereka
berkunjung ke kampus mbak. Katanya, saat itu dia melihat mbak tapi mbak nggak
tahu sama sekali saat ta’aruf baru mbak sadar pernah melihatnya diacara
tersebut. Dua
tahun setelah lulus kuliah ini baru dia meminang mbak, dan dua minggu lagi mbak
akan walimahan. Bukan saat acara organisasi ya kita kenalnya. Mbak nggak kenal
sama sekali malah.”
“Iya percaya dehh... dua tahun
setelah lulus kuliah terus di pinang. Coumlode niiii...”
“Mbak tunggu Aisyah juga harus
Coumlode seperti mbak. Tapi sekarang mau minta bantuan kalian. Selama dua
minggu ini mbak harus mengkhatamkan Alqur’an sebagai target mbak untuk menikah.
Jadi saat menikah nanti mbak sudah mengkhatamkan al qur’an berharap ada
keberkahan di sana. Aisyah mau bantu berapa juz?”
“2 juz saja ya mbak.”
“Juz berapa?”
“Juz 6 dan 7.”
“Baiklah, semoga dimudahkan ya
dinda. Tapi mbak ingin Aisyah membaca beserta artinya. Beritahu mbak jika sudah
selesai.” Ujar mbak Salwa.
“Inshaallah mbak. Aaaaa..... ada
yang mau menikah niiihhh.”
Siapakah muslimah?
Bagaikan sebuah berlian yang
berkilauan, terjaga dan tak dapat di tatap setiap mata.
Bagaikan sebuah bunga yang wangi
aromanya, berkelopak begitu indah dan terjaga dari si kumbang.
Bagaikan sebuah cahaya yang berhasil
menghilangkan kegelapan di dalam dada.
Muslimah, selayaknya ia terus
menjaga akhirnya juga akan terpinang juga.
Bagaikan permata, bagaikan sebuah
bunga, dan bagaikan cahaya.
Permata yang terjaga lama-lama akan
dimiliki,
Layaknya bunga yang pada akhirnya
membuat sang kubang datang,
Dan bagaikan cahaya yang menghampiri
hati, membersihkan setiap penyakit karena ada cahaya hati sebagai penyempurna
agama di sanubari seorang muslimah.
“Mbak harap Aisyah datang ke
pernikahan mbak dua minggu lagi.” Suara di sebrang telpon mengangetkan Aisyah.
“Berarti Aisyah harus pulang
kampung?” tanya Aisyah kaget.
“Iya. Mbak sengaja memilih tanggal
pernikahan setelah kalian selesai ujian.”
“Mbak.... kalau seandainya Aisyah
semester ini tidak diizinkan pulang bagaimana?”
“Mbak yakin, dinda mbak satu ini selalu
menyediakan tabungan. Gunakan tabungan selama menyisihkan uang dari ayah dan
ibu. Apa susahnya? Atau, bilang sama ayah ibu, uang jatah Aisyah dipotong saja
buat Aisyah pulang. Beress.”
Gadis ini menelan ludah. Sang
murrobinya dahulu ketika SMA benar-benar mendesaknya. Di lubuk hatinya yang
paling dalampun ia juga ingin pulang, bahkan ingin sekali tetapiii.....
“Inshaallah mbak.”
“Inshaallah bagi mbak adalah
penerimaan bahwa seseorang yang mbak undang akan datang. Ia akan menjawab kata
inshaallah yang berarti menyetuji untuk datang dengan kata-kata yang paling
halus.”
“Mbaaaakkkk..”
“Fokuslah pada ujianmu dinda. Mbak
tunggu. Assalamu’alaikum.”
Tuuuttt... tuutttt.. tuutttt...
Aku termangu di atas meja belajarku.
Inikah yang dinamakan Plane of life. Sebuah wahana kehidupan yang
melanda setiap insan. Perjalanan kehidupan yang menuntut kita untuk terus
selali dewasa dan bersiap-siap diri. Aku mengambil contoh mbak Salwa misalnya,
aku ingat betul ketika itu ia masih semester akhir dikuliahnya, tapi ia begitu
giat sekali untuk mencargher iman kami. Setelah itu, ia lulus dengan predikat
Comloude dan sekarnag menikah. Dipinang dengan seorang pangeran yang biasa
disebut ikhwan soleh.
Jannatii...
Jannatiii..
Jannatii..
Selalu ia mengucapkan kata-kata itu
seraya ia berharap akan dipertemukan dan dikumpulkan di sana. Jadilah muslimah
yang selalu memahami peradaban kehidupan. Jika kau tak kalah oleh waktu maka
kau menang sebagai muslimah peradaban, tetapi, ketika kau lengah akan waktu,
maka jangan kau sesali, kehidupan telah menelanmu hingga kau sukar untuk
keluar. Pelajari kehidupan ini dengan baik maka pendewasaan itu akan kau
dapatkan.
Bidadari-bidadari kehidupan

Komentar
Posting Komentar