ARRAYAN
Picked up the threads again...
Kutimang-timang sebuah
kehidupan,
Berharap disetiap ujung
akan ada cahaya yang terang benderang.
Pagi
yang cerah,
Alhamdulillah,
Allah Subhaanahu wata’ala telah melimpahkan rahmat-Nya pada pagi hari ini.
Kutemukan seberkas cahaya yang menyelinap menembus black clouds setelah semalaman terjadi hujan yang begitu lebat. Kulihat
lembaran-lembaran daun dari pohon sawo telah mengotori halaman rumah. Nampak
begitu berserakan, kusambut mereka dengan salam dan secercah senyuman.
“Assalamu’alaikum
daun.”
Kakiku
mulai melangkah mendekati sapu lidi yang berdiri di samping pohon sawo. Diikuti
kedua mataku yang menatap ramainya daun pohon sawo yang ada di sekitarku.
“Alangkah
bahagianya seumpama aku menjadi daun-daun yang berserakan ini. Tidak akan
pernah dihisab di akhirat kelak.”
Sstttt....
Tiba-tiba
aku teringat sesuatu, aku teringat dengan Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu
‘anhu. Tatkala ketakutan beliau kepada Allah Subhaanahu wata’ala begitu luar
biasa.
Sayyidina
Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,” Alangkah bahagianya, seumpama aku
menjadi rumput yang dimakan hewan.” Kadang kala ia berkata, “Alangkah
bahagianya, seumpama aku menjadi sehelai bulu dibadan seorang mukmin.” Suatu
ketika, ia pernah berada di dalam sebuah kebun dan melihat seekor burung yang
sedang berkicau. Sambil menarik nafas berat, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu
‘anhu berkata,”Wahai burung, alangkah beruntungnya hidupmu. Kamu makan, minum,
dan berterbangan di antara pepohonan, tetapi di akhirat tidak ada hisab bagimu.
Alangkah bahagianya, seumpama Abu Bakar menjadi sepertimu.” (dari Kitab
Tarikhul Khulafa yang dikutip Kitab Fadhilah Amal).
Setelah
mengingat cerita dari Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, aku jadi
tersenyum. Langkahku mulai tergerak dan tanganku mulai mengibaskan sapu lidi
demi mengumpulkan setiap lembaran daun pohon sawo.
“Bismillahirrahmannirrahim...”
Sreek! Sreek! Sreekkk!
Tiap-tiap
ayunan sapu, aku gunakan untuk memuji Rabbku.
Subhaanallah (Maha Suci
Allah)...
Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)...
Allahu Akbar (Allah Maha
Besar)...
“Belumkah datang waktu
baginya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka karena mengingat
Allah.” (Q.S. Al-Hadiid:16).
Dari
Sayyidina Anas Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka makanlah sepuas-puasnya.”
Seseorang bertanya, “Apakah taman surga itu?” Beliau menjawab,
“Majelis-majelias dzikir.” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dari kitab Misykat yang
diambil dari kitab fadilah amal).
Arrayan adalah seorang wanita
yang memiliki ciri-ciri tinggi, kurus dan berkulit putih. Wajahnya bersih
berseri-seri. Hal tersebut disebabkan
bukan karena ia memakai krim make-up
terkenal yang terjual ratusan ribu rupiah, melainkan karena ia sering
sekali berwudhu. Hal yang paling ia sukai ketika bersama air adalah berwudhu.
ia senang jika beraktivitas dalam keadaan suci.
Gadis
ini terkenal dengan sikapnya yang lemah lembut, kelembutan sikapnya
mengingatkan kepada istri nabi yang bernama Shaffiyah binti Huyay Radhiyallahu
‘anhu.
Terpaan
angin pagi, menemani aktivitasnya. Dengan mengenakan pakaian syar’I, jilbab hijau yanga begitu
syar’i membuatnya bagaikan seorang berbie. Kelembutannya terpancar tatkala ia
mengayunkan sapu yang ia gunakan untuk mengumpulkan puluhan daun sawo yang
berserakan, sesekali, sawo yang terjatuh dari pohonnya juga ikut tersapu.
Kring!
Kring! Kring!
Suara
tukang sayur keliling sudah terdengar ditelinganya. Ia langsung menyaruk
dedaunan itu menggunakan skop pembuang sampah dengan sapunya. Kemudian, berlari
kecil membawa sampah yang dihasilkan ke tempat sampah dibelakang rumah. Setelah
itu, ia kembali lagi ke depan untuk membeli sayur.
Bersama
ibu-ibu rumah tangga lainnya, ia membeli sayur untuk sarapan pagi Abah, Umi dan
adiknya yang bernama Assad. Kebetulan pagi itu, Abah dan Uminya sudah pergi
ba’da subuh untuk ke sawah sedangkan
Assad sedang siap-siap untuk pergi ke sekolah. Arrayan dengan mengenakan sendal jepit tampak
begitu lucu, wajahnya begitu putih dan matanya berbinar bening. Mengingatkan
sesosok shehrazat dalam kisah 1001 malam jika orang-orang memandangnya.
“Pagi-pagi
kok pakai kaos kaki.” Sindir ibu-ibu gendut yang mengenakan daster dengan roll
hair di rambutnya yang berwarna orange.
Aku
tersenyum. “Soalnya saya kedinginan bu kalau tidak pakai kaos kaki.”
Ibu
tersebut memandang dengan wajah kecut.
“Aduh
ibu, pagi-pagi sudah ngurusin orang aja. Mending mikir beli belanjaan saya yang
banyak saja bu.” Ujar pak sayur sambil bercanda.
Aku
tertawa kecil.
“Neng
gelis mau beli apa?” Tanya pak sayur.
“Hmmm....”
mataku melirik-lirik sayuran yang tertumpuk. “Saya beli sayur kangkungnya dua
ikat pak, sama cabai rawitnya tiga ribu aja, dan kecapnya satu renteng.”
“Mau
masak apa atuh neng?”
“Ca
Kangkung bang.”
“Neeng
bisa masak ternyata. Aduh, seneng uy, udah solehah, cantik, pinter masak pula.”
Ujar pak tukang.
“Tapi
sayang bang, kagak kuliah. Otaknya masih dipertanyakan tuh. Mendingan anak saya
si Mely. Cantik, seksi, terus kuliah di kebidanan. Udah cantik, seksi terus
otaknya encer.”
Aku
tersenyum sambil menerima belanjaan yang barusan aku sebutkan dan membayarnya.
“Ya
Allah bu Mely. Jangan begitu bu, bukannya si Arrayan ini orangnya pintar, sewaktu SMA dia
saingan sama anak saya, dia ini juara terus, anak saya aja kalah. Cuma, biaya
saja bu yang membuatnya belum bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Saya yakin,
kalau otaknya lebih encer dari otaknya anak ibu.” Ujar ibu Sofi membela.
“Walilla
ilham...” Ujarku dengan lembut hampir tak ada yang mendengar kecuali aku
sendiri yang menyadarinya.
Ibu
Mely tersenyum masam.
“Ibu-ibu
saya permisi dulu kalau begitu. Semoga hari-hari ibu menyenangkan dan semoga
masakannya lezat. Mari bang!!!” Ucapku sambil tersenyum dan menundukkan wajah.
Aku
melangkah dengan pasti.
“Mashaallah.
Itu mah bidadari yang turun dari langit.” Ujar Tukang sayur.
“Saya
kepingin banget punya anak kayak dia bang, kalau nggak, punya menantu aja cukup
deh bang.” Kata Bu Melody.
“Ini
bang, belanjaan saya. Lima ribu kan. Permisi dulu ya ibu-ibu.” Ucap Bu Mely.
Para
ibu-ibu menggeleng melihat sikap bu Mely barusan.
“Betapa
bersyukur betul Abu Arrayan punya
anak seperti Arrayan.
Belum lagi adiknya, si Assad anak laki-laki dari keluarga ini juga tampan dan
juga cerdas bang. Saya juga sayang banget pas tahu kalau ternyata si Arrayan ternyata nggak
ngelanjutin ke perguruan negri. Padahal ni ya bang, dia itu juara provinsi
olimpiade fisika lo bang.”
“Yang
bener bu?”
“Iya,
kalau si Assad adiknya itu berbakat bela diri. Kemarin saya denger dari ummu
Hafsah kalau anaknya itu menang juara satu tae kwondo provinsi. Pas minta urut
sama suami saya gara-gara si Assad
kakinya kesleo.”
“Masa
bu Mia?”
“Iya,
Mashaallah.” Ujar bu Sofi.
Layaknya
seorang koki, ia mengenakan clemek para koki. Memotong sayuran kangkung dengan
cekatan, mengiris cabai rawit seharga tiga ribu ia iris semua, bawang merah dan
bawang putih juga ia iris dengan cekatan. Wajan sudah diletakkan di atas kompor, nyala api
memanaskan sang wajan. Minyak goreng sudah mulai menunjukkan kalau ia siap
untuk dihujani oleh para irisan cabai, bawang merah dan bawang putih.
Cuusssssssss!
Arrayan mengoseng para irisan
yang sudah ia daratkan ke wajan. Ia tambahkan garam secukupnya. Aromanya begitu
tercium. Kemudian, ia memasukkan sayur kangkung yang sudah ia cuci bersih dan
ia tutup dengan penutup panci. Setelah
itu, ia membuka tutup panci. Ia dapati kangkungnya sudah mulai menunjukkan akan
segera matang, ia berikan siraman kecap secukupnya dan ia tambah sedikit gula
merah. Kemudian, ia membalik-balik tumisan tersebut. Perfect!
Aroma
ca kangkung tercium di setiap sudut rumahnya. Assad yang telah selesai
mengenakan pakaian putih abu-abunya langsung keluar kamar dan duduk di meja
makan.
“Raja
sudah siap untuk sarapan tuan putri. Jangan lupa susu putih hangatnya juga
ya!!!” Pekik Assad sambil menggoda kakaknya.
Ia
tahu betul, kakaknya senang jika diajak untuk memperagakan drama kerajaan.
Kakaknya sebagai putri raphunzel yang ia ketahui
ia jarang sekali keluar rumah setelah setahun yang lalu kelulusannya di sekolah
menengah pertama. Pekerjaannya hanyalah membaca, menulis, beribadah dan
mengurusi pekerjaan rumah. “Aku bangga pada kakak.” Gumamnya di dalam hati.
“Baiklah
raja. Tuan putri sudah selesai memasak masakan kesukaan raja. Mari kita sarapan
bersama.” Ujar Arrayan
sambil membawa ca Kangkung yang sudah tersaji di wadahnya.
Assad
membalikkan piring,
mengisinya dengan nasi namun kakaknya tidak
duduk dengannya melainkan kembali ke dapur. Suara adukan antara
sendok dan gelas terdengar samar-samar oleh telinganya.
Laki-laki
itu mengangguk.
Beberapa
saat kemudian, kakaknya kembali dengan membawa dua gelas susu putih hangat. Arrayan kemudian duduk di
kursinya yang sebelumnya meletakkan gelas susu yang dibawanya.
Assad
menyantap masakan kakaknya dengan mengucapkan Basmallah.
Ca kangkung. Ikan asin. Sambal terasi. Telur goring.
Tahu tempe goring.
Wajahnya
berseri, tampak ekspresi kepuasan terpancar diwajahnya. “Subhanallah kak,
enak.”
Arrayan tersenyum menyipit.
Selesai
sarapan. Assad pergi ke sekolah, sedangkan Arrayan
harus mencuci piring dan siap-siap mengantarkan bekal untuk Abah dan umi ke
sawah. Selesai mencuci, mengunci pintu rumah dan langsung menunggangi sepedanya
dengan posisi bekal berada di dalam ranjang sepeda. Kebetulan ia sudah mandi
lebih awal sebelum subuh.
Ayunan
sepedanya semakin cepat melaju. Menyusuri jalanan yang masih belum diaspal
dengan baik. Sesekali, ia harus bergoyang-goyang karena kerikil yang mencoba
menghalau laju sepedanya. Ujung jilbabnya melambai-lambai ketika tertiup angin.
Kehidupan
ini memang tak menjanjikan
kehidupan yang menyenangkan. Tapi
juga mendatangkan kesulitan.
tak
mengapa, aku percaya, selama nafas ini masih berhembus,
Maka,
selama itu pula ada Engkau bersamaku.
Fainnama’al
‘usriyusra
Innama’al
‘usriyusra..
Maka
sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,
Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Denyut
nadiku belum berhenti, itulah pertanda helaan nafasku harus berguna disetiap
waktu.
Arrayan. Gadis ini terus
melajukan sepedanya hingga tiba di sawah untuk menemui Abah dan Umminya.
bersambung ...

Komentar
Posting Komentar