ARRAYAN

1

Picked up the threads again...

Kutimang-timang sebuah kehidupan,
Berharap disetiap ujung akan ada cahaya yang terang benderang.

Pagi yang cerah,
Alhamdulillah, Allah Subhaanahu wata’ala telah melimpahkan rahmat-Nya pada pagi hari ini. Kutemukan seberkas cahaya yang menyelinap menembus black clouds setelah semalaman terjadi hujan yang begitu lebat. Kulihat lembaran-lembaran daun dari pohon sawo telah mengotori halaman rumah. Nampak begitu berserakan, kusambut mereka dengan salam dan secercah senyuman.
“Assalamu’alaikum daun.”
Kakiku mulai melangkah mendekati sapu lidi yang berdiri di samping pohon sawo. Diikuti kedua mataku yang menatap ramainya daun pohon sawo yang ada di sekitarku.
“Alangkah bahagianya seumpama aku menjadi daun-daun yang berserakan ini. Tidak akan pernah dihisab di akhirat kelak.”
Sstttt....
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku teringat dengan Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Tatkala ketakutan beliau kepada Allah Subhaanahu wata’ala begitu luar biasa.
Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,” Alangkah bahagianya, seumpama aku menjadi rumput yang dimakan hewan.” Kadang kala ia berkata, “Alangkah bahagianya, seumpama aku menjadi sehelai bulu dibadan seorang mukmin.” Suatu ketika, ia pernah berada di dalam sebuah kebun dan melihat seekor burung yang sedang berkicau. Sambil menarik nafas berat, Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata,”Wahai burung, alangkah beruntungnya hidupmu. Kamu makan, minum, dan berterbangan di antara pepohonan, tetapi di akhirat tidak ada hisab bagimu. Alangkah bahagianya, seumpama Abu Bakar menjadi sepertimu.” (dari Kitab Tarikhul Khulafa yang dikutip Kitab Fadhilah Amal).
Setelah mengingat cerita dari Sayyidina Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, aku jadi tersenyum. Langkahku mulai tergerak dan tanganku mulai mengibaskan sapu lidi demi mengumpulkan setiap lembaran daun pohon sawo.
“Bismillahirrahmannirrahim...”
Sreek! Sreek! Sreekkk!
Tiap-tiap ayunan sapu, aku gunakan untuk memuji Rabbku.
Subhaanallah (Maha Suci Allah)...
 Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)...
Allahu Akbar (Allah Maha Besar)...
“Belumkah datang waktu baginya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka karena mengingat Allah.” (Q.S. Al-Hadiid:16).
Dari Sayyidina Anas Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Baginda Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka makanlah sepuas-puasnya.” Seseorang bertanya, “Apakah taman surga itu?” Beliau menjawab, “Majelis-majelias dzikir.” (H.R. Ahmad, Tirmidzi, dari kitab Misykat yang diambil dari kitab fadilah amal).
Arrayan adalah seorang wanita yang memiliki ciri-ciri tinggi, kurus dan berkulit putih. Wajahnya bersih berseri-seri. Hal tersebut disebabkan  bukan karena ia memakai krim make-up terkenal yang terjual ratusan ribu rupiah, melainkan karena ia sering sekali berwudhu. Hal yang paling ia sukai ketika bersama air adalah berwudhu. ia senang jika beraktivitas dalam keadaan suci.
Gadis ini terkenal dengan sikapnya yang lemah lembut, kelembutan sikapnya mengingatkan kepada istri nabi yang bernama Shaffiyah binti Huyay Radhiyallahu ‘anhu.
Terpaan angin pagi, menemani aktivitasnya. Dengan mengenakan pakaian syar’I, jilbab hijau yanga begitu syar’i membuatnya bagaikan seorang berbie. Kelembutannya terpancar tatkala ia mengayunkan sapu yang ia gunakan untuk mengumpulkan puluhan daun sawo yang berserakan, sesekali, sawo yang terjatuh dari pohonnya juga ikut tersapu.
Kring! Kring! Kring!
Suara tukang sayur keliling sudah terdengar ditelinganya. Ia langsung menyaruk dedaunan itu menggunakan skop pembuang sampah dengan sapunya. Kemudian, berlari kecil membawa sampah yang dihasilkan ke tempat sampah dibelakang rumah. Setelah itu, ia kembali lagi ke depan untuk membeli sayur.
Bersama ibu-ibu rumah tangga lainnya, ia membeli sayur untuk sarapan pagi Abah, Umi dan adiknya yang bernama Assad. Kebetulan pagi itu, Abah dan Uminya sudah pergi ba’da subuh untuk ke sawah sedangkan Assad sedang siap-siap untuk pergi ke sekolah. Arrayan dengan mengenakan sendal jepit tampak begitu lucu, wajahnya begitu putih dan matanya berbinar bening. Mengingatkan sesosok shehrazat dalam kisah 1001 malam jika orang-orang memandangnya.
“Pagi-pagi kok pakai kaos kaki.” Sindir ibu-ibu gendut yang mengenakan daster dengan roll hair di rambutnya yang berwarna orange.
Aku tersenyum. “Soalnya saya kedinginan bu kalau tidak pakai kaos kaki.”
Ibu tersebut memandang dengan wajah kecut.
“Aduh ibu, pagi-pagi sudah ngurusin orang aja. Mending mikir beli belanjaan saya yang banyak saja bu.” Ujar pak sayur sambil bercanda.
Aku tertawa kecil.
“Neng gelis mau beli apa?” Tanya pak sayur.
“Hmmm....” mataku melirik-lirik sayuran yang tertumpuk. “Saya beli sayur kangkungnya dua ikat pak, sama cabai rawitnya tiga ribu aja, dan kecapnya satu renteng.”
“Mau masak apa atuh neng?”
“Ca Kangkung bang.”
“Neeng bisa masak ternyata. Aduh, seneng uy, udah solehah, cantik, pinter masak pula.” Ujar pak tukang.
“Tapi sayang bang, kagak kuliah. Otaknya masih dipertanyakan tuh. Mendingan anak saya si Mely. Cantik, seksi, terus kuliah di kebidanan. Udah cantik, seksi terus otaknya encer.”
Aku tersenyum sambil menerima belanjaan yang barusan aku sebutkan dan membayarnya.
“Ya Allah bu Mely. Jangan begitu bu, bukannya si Arrayan ini orangnya pintar, sewaktu SMA dia saingan sama anak saya, dia ini juara terus, anak saya aja kalah. Cuma, biaya saja bu yang membuatnya belum bisa meneruskan ke perguruan tinggi. Saya yakin, kalau otaknya lebih encer dari otaknya anak ibu.” Ujar ibu Sofi membela.
“Walilla ilham...” Ujarku dengan lembut hampir tak ada yang mendengar kecuali aku sendiri yang menyadarinya.
Ibu Mely tersenyum masam.
“Ibu-ibu saya permisi dulu kalau begitu. Semoga hari-hari ibu menyenangkan dan semoga masakannya lezat. Mari bang!!!” Ucapku sambil tersenyum dan menundukkan wajah.
Aku melangkah dengan pasti.
“Mashaallah. Itu mah bidadari yang turun dari langit.” Ujar Tukang sayur.
“Saya kepingin banget punya anak kayak dia bang, kalau nggak, punya menantu aja cukup deh bang.” Kata Bu Melody.
“Ini bang, belanjaan saya. Lima ribu kan. Permisi dulu ya ibu-ibu.” Ucap Bu Mely.
Para ibu-ibu menggeleng melihat sikap bu Mely barusan.
“Betapa bersyukur betul Abu Arrayan punya anak seperti Arrayan. Belum lagi adiknya, si Assad anak laki-laki dari keluarga ini juga tampan dan juga cerdas bang. Saya juga sayang banget pas tahu kalau ternyata si Arrayan ternyata nggak ngelanjutin ke perguruan negri. Padahal ni ya bang, dia itu juara provinsi olimpiade fisika lo bang.”
“Yang bener bu?”
“Iya, kalau si Assad adiknya itu berbakat bela diri. Kemarin saya denger dari ummu Hafsah kalau anaknya itu menang juara satu tae kwondo provinsi. Pas minta urut sama suami saya gara-gara si Assad kakinya kesleo.”
“Masa bu Mia?”
“Iya, Mashaallah.” Ujar bu Sofi.

Layaknya seorang koki, ia mengenakan clemek para koki. Memotong sayuran kangkung dengan cekatan, mengiris cabai rawit seharga tiga ribu ia iris semua, bawang merah dan bawang putih juga ia iris dengan cekatan. Wajan sudah diletakkan di atas kompor, nyala api memanaskan sang wajan. Minyak goreng sudah mulai menunjukkan kalau ia siap untuk dihujani oleh para irisan cabai, bawang merah dan bawang putih.
Cuusssssssss!
Arrayan mengoseng para irisan yang sudah ia daratkan ke wajan. Ia tambahkan garam secukupnya. Aromanya begitu tercium. Kemudian, ia memasukkan sayur kangkung yang sudah ia cuci bersih dan ia tutup dengan penutup panci. Setelah itu, ia membuka tutup panci. Ia dapati kangkungnya sudah mulai menunjukkan akan segera matang, ia berikan siraman kecap secukupnya dan ia tambah sedikit gula merah. Kemudian, ia membalik-balik tumisan tersebut. Perfect!
Aroma ca kangkung tercium di setiap sudut rumahnya. Assad yang telah selesai mengenakan pakaian putih abu-abunya langsung keluar kamar dan duduk di meja makan.
“Raja sudah siap untuk sarapan tuan putri. Jangan lupa susu putih hangatnya juga ya!!!” Pekik Assad sambil menggoda kakaknya.
Ia tahu betul, kakaknya senang jika diajak untuk memperagakan drama kerajaan. Kakaknya sebagai putri raphunzel yang ia ketahui ia jarang sekali keluar rumah setelah setahun yang lalu kelulusannya di sekolah menengah pertama. Pekerjaannya hanyalah membaca, menulis, beribadah dan mengurusi pekerjaan rumah. “Aku bangga pada kakak.” Gumamnya di dalam hati.
“Baiklah raja. Tuan putri sudah selesai memasak masakan kesukaan raja. Mari kita sarapan bersama.” Ujar Arrayan sambil membawa ca Kangkung yang sudah tersaji di wadahnya.
Assad membalikkan piring, mengisinya dengan nasi namun kakaknya tidak duduk dengannya melainkan kembali ke dapur. Suara adukan antara sendok dan gelas terdengar samar-samar oleh telinganya.
Laki-laki itu mengangguk.
Beberapa saat kemudian, kakaknya kembali dengan membawa dua gelas susu putih hangat. Arrayan kemudian duduk di kursinya yang sebelumnya meletakkan gelas susu yang dibawanya.
Assad menyantap masakan kakaknya dengan mengucapkan Basmallah.
Ca kangkung. Ikan asin. Sambal terasi. Telur goring. Tahu tempe goring.
Wajahnya berseri, tampak ekspresi kepuasan terpancar diwajahnya. “Subhanallah kak, enak.”
Arrayan tersenyum menyipit.
Selesai sarapan. Assad pergi ke sekolah, sedangkan Arrayan harus mencuci piring dan siap-siap mengantarkan bekal untuk Abah dan umi ke sawah. Selesai mencuci, mengunci pintu rumah dan langsung menunggangi sepedanya dengan posisi bekal berada di dalam ranjang sepeda. Kebetulan ia sudah mandi lebih awal sebelum subuh.
Ayunan sepedanya semakin cepat melaju. Menyusuri jalanan yang masih belum diaspal dengan baik. Sesekali, ia harus bergoyang-goyang karena kerikil yang mencoba menghalau laju sepedanya. Ujung jilbabnya melambai-lambai ketika tertiup angin.
Kehidupan ini memang tak menjanjikan kehidupan yang menyenangkan. Tapi juga mendatangkan kesulitan.
tak mengapa, aku percaya, selama nafas ini masih berhembus,
Maka, selama itu pula ada Engkau bersamaku.
Fainnama’al ‘usriyusra
Innama’al ‘usriyusra..
Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,
Sesungguhnya  bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Denyut nadiku belum berhenti, itulah pertanda helaan nafasku harus berguna disetiap waktu.

Arrayan. Gadis ini terus melajukan sepedanya hingga tiba di sawah untuk menemui Abah dan Umminya.


bersambung ...

Komentar

Postingan Populer