Bahkan aku pernah terbesit “Kenapa aku tak mau bersyukur?”
Assalamu’alaikum. Apa kabar solihah?
Sudah lama aku tak menorehkan kata-kata hingga tergabung menjadi sebuat
kalimat. Hari ini aku kembali lagi berkontribusi pada dunia yang sangat ingin
aku masuki di dalamnya. hal itu adalah berada di tengah-tengah orang difabel.
Awal cerita ini akan membuatku
mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu dimana aku mendaftarkan diri
menjadi relawan untuk para difabel di kampusku. Namun, aku hanya bisa menghabiskan
waktu pada dua moment bersama mereka. Membersamai mereka. Itu bertepatan pada
hari difabel dunia.
Awalnya aku masuk sebagai relawan
baru. Aku hanya duduk manis sebagai tamu diacara itu. Namun, beberapa menit
kemudian disaat aku sedang duduk ada seorang tuna netra berjalan dengan
tongkatnya menghampiri tempat dimana aku duduk. Ia berhenti setelah beberapa
meter dariku. Ia duduk “Mbak dari mana e? Sepertinya saya baru kenal?”
Aku diam saja karena aku menganggap
bukan berbicara kepadaku.
“Mbak, mbak...” Panggil seorang mas
yang tuna netra.
Aku berkedip dan menghadap kearahnya.
Ternyata dia berbicara kepadaku, aduh rasanya jadi tak enak.
“Iya Mas. Maaf tadi saya kurang
fokus.” Jawabku dengan sedikit tertawa menorehkan senyuman yang tidak akan bisa
ia lihat.
“Wah, ngelamunin apa e mbak?”
Tanyanya lagi.
“Hohoho.. bukan apa-apa mas.” Jawabku
mengelak.
“Namanya siapa mbak? sepertinya suara
mbak baru kali ini saya dengar. Relawan baru ya mbak?”
Aku tersenyum lagi. “Hehe.. iya mas,
saya coba-coba dulu jadi relawan disini. Nama saya Vita Septi Susanti. Panggil
saja saya Vita.”
“Saya mewakili teman-teman lain
mengucapkan selamat datang dan bergabung bersama keluarga difabel Uin Suka ya
mbak.”
Aku mengangguk.
“Mbak..”
“Iya..”
“Kok diam saja. Disni itu jangan jadi
pendiam, ntar kalah sama kita-kita. Hehehe...” dia tertawa dengan lepas.
Ku lihat wajah penuh semangat itu.
Seseorang yang tak dapat melihat keindahan dunia. Seseorang yang merasakan
dunia ini hanyalah sekumpulan kegelapan yang terkadang menghambat aktivitas
yang seambrek-ambrek ia lakukan. Akupun kembali menatap kedua bola matanya.
Salah satu matanya tertutup dan tak bisa membuka. Satunya lagi berkedap-kedip
seakan-akan mencoba ingin mengintip tanpa permisi dunia yang terbentang luas
ini.
“Tuh kan, mbaknya diem lagi. Mbak
semester berapa sekarang? Jurusan apa?”
“Hehe.. saya baru semester satu mas.
Baru aja kemarin masuknya.”
Ia terkejut. “Muda sekali ya.”
“Hhe... Jurusannya Pendidikan
Matematika.”
“Wah, boleh juga nih... saya ada mata
kuliah statistika. Saya kesulitan mbak, nanti bisa bantu saya ya.”
“hehe... saya belum dapat mata kuliah
itu mas, jadi ilmu saya masih minim. Baru semester kemarin sore.”
“Weleh, mbaknya jangan merendah
gitu.”
Tiba-tiba pembicaraan kami terputus
karena beberapa relawan lain bergegas membagikan nasi kotak jatah makan siang
untuk kami semua sebelum kami pawai menyusuri seluruh kampus hingga berlabuh di
gedung rektor kampus. Aku dan relawan lainnya, bergilir memegang nasi kotak itu
dan membagikannya kepada seluruh orang yang ada diruangan PLD saat itu, hingga
akhirnya satu nasi kotak berhenti ditanganku dan meminta untuk segera dibuka.
Setelah pembagian selesai, aku kembali duduk ditempat semula bersama teman
relawan yang sama-sama baru sepertiku. NDARI namanya.
Kubuka nasi kotak itu. Ku sendok nasi
kuning yang dihiasi dengan berbagai macam lauk yang beragam. Telur yang
diiris-iris panjang, sambel tempe kering, bihun, dan lainnya. Saat satu suapan
telah mendarat di mulutku. Tiba-tiba mataku terpana dengan suatu penglihatan
yang jarang bahkan tak pernah aku temui sebelumnya.
Aku melihat laki-laki yang tuna netra
membuka nasi itu dengan perlahan. Mula-mula ia meraba-raba kotak nasi itu
dengan perlahan sambil merasakan tiap sudut-sudut kotak. Ia dekatkan dengan
hidungnya. Perlahan ia buka kotak itu, saat nasi kotak itu terbuka. Tangannya
kembali meraba permukaan-permukaan makanan itu. Dengan tangan dan hidungnya ia
berusaha mengenali makanan apa yang ada dihadapannya itu.
Perlahan tangannya mendarat
dipermukaan nasi kuning yang berbentuk seperti cup mangkuk, hidungnya mulai
bekerja, kepalanya mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia mencetuskan sebuah suara.
“Ini nasi kuning ya?”
Mataku terpana.
Salah satu relawanpun menjawab sambil
mengunyah makanan. “Seratus untukmu mas.”
Ia tersenyum. Tangannya kembali
meraba makanan yang dihadapannya. “Lauknya apa ya?”
“Itu bihun, telur, sambel tempe,
sayur dan sambel pecel.” Jawab relawan wanita yang ada disebelahnya.
“Wah, padahal aku ingin menebaknya
lagi. Hehehe. Tapi nggak apa-apa saatnya makan ya. Hee”
Sambil makan aku juga sambil
memperhatikan mas itu. entahlah, hatiku seakan-akan berkata. Untuk makan saja
susah. Harus melawan kegelapan. Beraba-raba. Kalian HEBAT!
“Mbak... Mbak Vita...Mbak Ndari”
“Iya.. Ada apa mas?” Jawab kami
serentak.
“Anteng sekali kalian ini makannya.
Dihabiskan loh!”
Aku tersenyum.
“saya kayaknya nggak bisa habis mas.
Tadi dari kost sudah makan.” Jawab Ndari.
“Wah sayang mbk, kasihan nasinya
nangis kalau nggak dimakan.”
Ndari tersenyum malu.
“O iya, ngomong-ngomong nama mas
siapa?” Tanya Ndari.
“Nama Saya RYAN (nama samaran).”
Tak ada yang mau terlahirkan dengan
kekurangan. Manusia mana yang mau lahir dengan keterbatasan. Semuanya pasti
mengharapkan bisa hidup dengan kecukupan bahkan kesempurnaan. Walaupun
terkadang kita terlalu munafik mengatakan bahwa kesempurnaan hanyalah milik
Allah. Tapi nyatanya kita sering menuntut sesuatu hal yang tak pernah dapat
kita rasakan bahkan kita dapatkan di dunia.
Orang yang terlahir dengan segala
keterbatasan pasti memiliki potensi diri yang berlebih, aku yakin itu.
Setidaknya potensi diri dalam memiliki semangat juang dalam kehidupan yang luar
biasa. Di sini aku mempelajari semangat kehidupan bersama kalian para saudaraku
di PLD UIN SUKA.
Beberapa akhir ini tepatnya
disemester ini aku sempat menghilang karena kesibukan aktivitasku dengan
kuliah. Bukan daku melupakan kalian. Rindu hati ketika berkumpul untuk
mendapatkan cas semangat motivasi bersama kalian. Bersama kalian aku
mendapatkan berbagai pelajaran.
Terkadang aku sering menjadi manusia
yang tak pandai untuk bersyukur bahkan aku sering kali menjadi hamba Allah yang
seakan-akan mendapatkan semua nikmat ini secara instant. Padahal semua nikmat
yang berlabuh dikehidupanku atas dasar pemberian yang dititipkan oleh Sang Maha
Kaya.
Kulihat
dengan keterbatasan kalian belajar kemandirian, dengan keterbatasan kalian
belajar semangat, dengan keterbatasan kalian belajar keahlian, dengan
keterbatasan kalian belajar untuk tidak malu. Bahkan kalian berhasil membuat
aku menjadi malu. Malu karena aku sebagai makhluk ciptaan Allah yang dicipatakn
dengan fisik lengkap tapi aku tak pandai untuk Mandiri, aku tak pandai untuk
bersemangat, aku tak pandai untuk memiliki keahlian dan bahkan aku sering malu.
Seharusnya menjadi setiap ciptaan Allah harusnya kita harus
bisa pandai-pandai untuk bersyukur. Kenapa aku tak pandai untuk bersyukur?
Tanyakan pada hati.

Komentar
Posting Komentar