Geometri Analitik Vs Kota Sragen


Assalamu’alaikum.wr.wb.

Sudah lama aku tidak menorehkan tulisan di cerita vitha althafunnisa, begitu banyak cerita yang sebenarnya ingin aku bagi di sini. Salah satunya adalah cerita menarik yang terjadi pada hari minggu. Tepatnya sehari sebelum UTS dimulai. Waktu itu pada malam Minggu aku dikejutkan dengan datangnya sebuah pesan di ponselku.
“Assalamu’alaikum. Mbak vita, bapak besok sampai ke jawa. Mbak vita besok libur kan? Mbak pulang naik bis aja. Bude hari senin mau di operasi. Bude kena tumor. Mbak langsung kerumah si mbah. Nanti dijemput oom.”
Sms ini langsung mengagetkan ku.
“Tumor?”
Aku langsung bingung.
“Aduh gimana ini? Seninkan aku UTS Geometri Analitik lagi. Kalau pulang otomatis nggak bisa belajar.” Tapi, setelah beberapa saat aku memutuskan akhirnya aku memilih untuk pulang. Malammnya aku lembur belajar Geometri Analitik. Bismillah. Dengan niat yang lurus ba’da subuh aku sudah selesai berkemas-kemas. Tak banyak membawa baju hanya satu tapi tasku tetap gembung karena terisi oleh buku-buku geometri analitik yang tebalnya bisa dijadikan untuk bantal tidur. Buku yang aku bawa bukan hanya satu melainkan lima. Woww buangett. Semuanya kalau dibuka merupakan materi-materi lingkaran, ellips, hiperbola dan sejenisnya.
Sekitar jam 8 pagi aku sudah siap dengan menenteng tas merahku. Diantar ke terminal giwangan oleh mbak masyitoh. Sesampai diterminal perpisahan kecil terjadi. Hhehe
Setelah naik di bis aku bingung. Ini pertama kalinya aku naik bis tetapi turunnya bukan di solo tetapi di sragen. Berkali-kali aku bilang kepada pak kernet, “Pak kalau sudah disragen nanti bilangin ya pak?”
“Ouh iya mbak nanti saya bilangin.”
Ceklik. Keren....
Setelah melalui perjalanan hingga memakan waktu dua jam akhirya sragentina sampai jua. Suara kenek yang terdengar besar berteriak, “Sragen .. Sragenn... Sragen..”
Suara pak kenet bis disambut antusias oleh penumpang yang akan turun di Sragen termasuk aku. Aku sambil menenteng tas ransel merah langsung bangkit dari dudukku. Mulai meraih tiap-tiap kursi yang berjajar, dengan posisi berjalan yang tidak seimbang, aku merasakan olengan badan yang sedikit membuatku tertawa sengit. “Lucu sekali, persis seperti orang mabok” gumamku dalam hati.
***
Setiba di rumah si mbah, aku di sambut dengan senyuman yang begitu aku rindukan. Senyuman itu terlontar dari wajah bapakku. Ia terduduk di kursi depan pintu, wajahnya penuh dengan kerutan. Ia menoleh kepadaku. Wajahnya seakan-akan melontarkan kebahagian yang luar biasa. Wajah dimana rindunya terlepaskan setelah melihat wajah anak gadisnya yang sudah berbulan-nulan tidak berjumpa. Ku raih tangannya lalu kuletakkan dikeningku. Terasa sekali permukaan tangan yang selalu mengais rupiah untukku meraih ilmu.
“Bapakkk...”
“Weh, anak bapak sudah sampai... berangkat dari yogya jam berapa mbak?”
“Jam 8 tadi..”
“Ya sudah, istirahat saja dulu. Sudah makan?”
Aku mengangguk.
Pelepasan rindu yang amat berkesan bagiku hari itu. Selepas itu, aku langsung mengeluarkan rumus-rumus geometri analitik yang berwarna-warni. Menghafal dan memahami setiap rumurs yang tertulis.waktu belajar hanya satu jam setengah. Hingga sore harinya aku, si mbah dan bapak memutuskan untuk pergi ke solo dengan niat membesuk budeku. Akhirnya kami pergi dengan naik bis.
Setiba di rumah si mbah dari keluarga mamak. Waktu magrib telah tiba, kami langsung beranjak menunaikan shalat dan dilanjutkan makan malam. Kemudian kami berangkat bersama-sama ke rumah sakit yarsis surakarta. Di dalam bis anehnya aku tetap merasa tenang. Padahal aku belum menguasai materi. Ntah kenyamanan ini lahir karena niat aku pergi baik atau karena aku berada di dekat bapak. Aku tak tahu alasannya, tapi sudah pasti tak bisa dibayangkan kalau aku di yogya seperti ini. Bisa-bisa kayak orang bingung aja aku kalau tidak belajar.
                Setiba di rumah sakit aku bertemu wajah yang sayu, pucat, dan lemah. Wajah budeku yang terkena sakit tumor. Cepat sembuh ya budeeee........
Disela-sela membesuk aku mengeluarkan catatan rumus dan catatan geometri analitik. Sempat aku membaca beberapa menit hingga pulang. Sebenernya malu sih di rumah sakit malah buka-buka buku terus bacaannya matematika. Kayak dikira orang pinter aja. Padahalkan ngejar target. Hehehe
Sepulangnya, saat aku di dalam bis, aku kembali membuka catatan untuk belajar. Dengan kondisi di dalam bis yang selalu bergerak tak menentu apalagi dibawah lampu bis yang remang-remang. Sulit memang untuk membaca tulisan yang ada di catatan. Setelah belajar sedapatnya saja akhirnya aku tertidur di dalam bis. Hingga aku dibangunkan oleh oomku. Oomku yang bukan muhrim denganku terus membangunkanku tanpa menyentuhku sama sekali. Berkali-kali ia sebut namaku.
“Vita.. Vit... Vitaa.. bangun.. udah sampai...”
Ternyata bapakku sendiri nggak tahu kalau aku ketiduran dibis.
Namun, tak lama kemudian aku tergagap dan bangun. Kudapatin beberapa ibu-ibu tetangga tertawa lucu melihatku tertidur dan tak bangun-bangun. Kulihat wajah oomku yang akhirnya lega karena bisa membangunkanku.
Aku dengan linglung akhirnya turun dari bis dan langsung ke kamar.
Keesokan harinya selepas subuh, aku sudah bersiap-siap untuk kembali pulang ke yogyakarta. Lagi-lagi hatiku tetap merasa tenang. Hingga akhirnya aku diantarkan oleh bapak ke perempatan terminal solo. Beberapa detik aku menunggu bis tiba-tiba bis jurusan yogyakarta datang. Sang kenet mengawai-ngawai dari kejauhan. Aku langsung lompat ke anak tangga bis. Bapak dengan sigap memasukkan kardus bawaanku kedalam bagasi. Belum aku melangkah lagi, aku menoleh kebelakang berharap ada sesosok bapak di depan pintu masuk bis. Ku dapati beberpa penumpang juga ingin masuk namun belum bisa karena aku masih di tengah-tengah anak tangga pintu masuk bis. Tiba-tiba muncul sesosok wajah yang aku harapkan. Bapak.
“Mbak vita hati-hati ya.”
“Pak, aku berangkat dulu. Ku ulurkan tanganku dan kemudian bapak meraih tanganku hingga kami berjabat tangan dan terlepaskan karena sang kenek sudah berteriak, “Cepat mbak cepat.”
Seketika aku langsung menaikki bis dan duduk.
Perjalanan pulangpun dimulai. Selama satu jam aku tertidur di dalam bis hingga akhirnya aku terbangun. Ku dapati teman sebangku ku di bis sedang bermain hape. Seorang wanita yang berjilbab juga.
“Pulang ke Yogya ya mbak?”
“Iya mbak.”
“Kuliah dimana mbak?”
“UMY. Kalau mbak?”
“Saya UIN mbak. Hhehhe..”
“Turunnya nanti dimana mbak?”
“Di jembatan janti mbak. Kalau mbak?”
“Saya di terminal giwangan.”
Aku mengangguk dan kita kembali diposisi masing-masing. Sibuk dengan urusan masing-masing. Aku langsung membuka catatan lagi dan mengeluarkan rumus-rumus geometri analitik. Aku merasakan bahwa mbak yang duduk disebelahku melirik catatanku yang buaaanyaak banget.
“Ujian ya mbak?”
“Heeeeheee Iya mbak..”
“Jam berapa ujiannya?”
“Jam 1 nanti mbak.”
“Wah, masih ada waktu kok mbak. Semangat ya!”
“Weh, makasih mbak. Di umy lagi ujian juga nggak mbak?”
“nggak mbak.”
Aku kembali mengangguk.
Kubaca tiap-tiap catatanku hingga sampai yogyakarta. Beberapa saat kemudian sang kenet berteriak, “Janti... Janti.... Jantiii”
Aku langsung bergegas memasukkan catatanku dan langsung beranjak dari tempat duduk.
“Mbak saya duluan ya.”
“Ouh iya mbak.”
Akhirnya saya turun dari bis juga. Belum sempat aku menghembuskan nafas pertama tiba-tiba segerombolan tuakng ojek di janti langsung menggerumbuliku. Menawarkan jasa naik ojek atau bejak kepadaku. Aku menolak mereka. Seketika tolakanku membubarkan gerombolan tukang ojek. berasa kayak artis aja. Tapi artis yang diidolakan tuakng ojek. aduh gubraakkk. Nggak dah. Nggak jadi aja jadi artisnya. Hhehhe
Lima menit aku menunggu akhirnya ada juga jemputan yang datang. Mbak Masitoh. Langsung aku menaiki kuda putih biru milikku. Setiba di asrama hamasah, suasana asrama terasa sepi sekali. Semuanya sudah mulai bertempur dalam ujian. Akhirnya aku bergegas mandi dan bersih-bersih serta sarapan. Kemudian aku langsung membuka catatan dan belajar sampai jam setengah 12. hingga akhirnya jam 1 tiba aku duduk dan menatap soal-soal geometri analitik. Superrrrrrr... ujian untuk pertama kalinya yang aku lewatkan seperti ini. Belajar disela-sela waktu yang terbatas. Belajar di tempat yang bebeda dalam beberapa jam. Mulai dari siangnya yang belajar di sragen, malamnya di solo hingga akhirnya di yogyakarta. Tempat-tempatnyapun berbeda-beda, mulai dari di rumah sakit hingga dibis. Semoga Allah memberikan hasil yang terbaik untukku. Semoga proses yang kulalui untuk bertarung dengan geometri analitik di nilai MAHAL oleh Allah SWT. Amiin.
Hasil itu tak menjuarai, yang menjuarai adalah proses. Hasil tidaklah berharga jika tidak dilalui dengan proses yang keras.
Semangat ya...
Ini cerita singkat dariku. Apa cerita mu saat uts kemarin?
Terima kasih ya sudah mau menyempatkan untuk membaca cerita vita althafunnisa.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer